Kurs Dolar AS Melemah Usai Ketegangan Dagang AS-China Mereda

Kurs Dolar AS Melemah Usai Ketegangan Dagang AS-China Mereda

Share

Nilai tukar dolar AS melemah pada pembukaan perdagangan hari Senin, 30 Juni 2025. Mata uang Greenback terlihat tertekan terhadap mayoritas pasangan mata uang utama (major pairs), seiring dengan meningkatnya minat risiko di pasar global. Indeks Dolar AS (DXY) bahkan menurun mendekati ambang 97.00—tanda semakin lemahnya posisi USD di tengah membaiknya sentimen geopolitik dan perkembangan hubungan dagang internasional.

Faktor-Faktor yang Melemahkan Nilai Tukar Dolar AS

Selama sepekan terakhir, terdapat tiga faktor utama yang turut mendorong nilai tukar dolar AS melemah:

1. Ketidakpastian Kepemimpinan The Fed

Kekhawatiran muncul dari spekulasi bahwa Presiden AS Donald Trump mungkin akan menunjuk seorang "Ketua Fed bayangan". Langkah ini dikhawatirkan akan menggoyang kredibilitas Federal Reserve dan menimbulkan tekanan pada nilai tukar dolar AS, yang menjadi indikator penting dalam perdagangan internasional dan investasi global.

2. Ancaman Kenaikan Utang Nasional

Rencana undang-undang baru yang diusung Trump diprediksi dapat meningkatkan utang negara hingga USD 3.3 triliun dalam waktu sepuluh tahun. Ketidakpastian fiskal ini turut memperlemah daya tarik dolar AS di mata investor global, sehingga nilai tukar dolar AS cenderung mengalami penurunan dalam jangka pendek.

3. Perkembangan Positif Perdagangan Global

Titik terang mulai terlihat dalam beberapa perundingan dagang internasional, termasuk hubungan Amerika Serikat dengan Kanada dan China. Ini menjadi sinyal positif bagi pasar, namun justru menekan kekuatan dolar karena investor mulai beralih ke aset berisiko yang lebih menguntungkan, seperti saham dan komoditas.

faktor faktor yang melemahkan nilai tukar dolar as

AS-China Capai Kesepakatan Dagang Baru

Salah satu pemicu utama nilai tukar dolar AS melemah adalah kesepakatan perdagangan baru antara Amerika Serikat dan China yang diumumkan pada Jumat lalu. Gedung Putih menyatakan bahwa China akan mempercepat proses ekspor mineral tanah jarang, sekaligus memperketat kontrol terhadap prekursor fentanil—zat yang sering disalahgunakan dalam produksi narkoba sintetis.

Sebagai imbalannya, pemerintah AS berjanji mencabut sejumlah pembatasan terhadap perusahaan teknologi asal Tiongkok. Langkah ini disambut positif oleh pasar karena mengurangi ketegangan yang sempat meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Kesepakatan ini sangat signifikan, terutama karena dua minggu sebelumnya, industri otomotif AS sempat khawatir atas potensi gangguan pasokan akibat larangan ekspor mineral tanah jarang oleh pihak China. Dengan tercapainya kesepakatan ini, sektor industri AS bisa bernapas lega dan stabilitas nilai tukar dolar AS tetap menjadi perhatian utama.

as china capai kesepakatan dagang baru

Reaksi Pemerintah dan Analis Pasar

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut kesepakatan ini sebagai kelanjutan dari pembicaraan dagang yang telah dilakukan sebelumnya di Jenewa. Ia optimistis bahwa kesepakatan serupa juga bisa diraih dengan negara mitra dagang lainnya sebelum 1 September 2025.

Sementara itu, para analis memperkirakan bahwa tren nilai tukar dolar AS melemah akan terus berlanjut, dengan pasar lebih fokus terhadap dinamika geopolitik dan perundingan dagang, ketimbang data ekonomi reguler. Sentimen pasar terhadap mata uang dolar dipengaruhi oleh respons terhadap isu perdagangan global dan kebijakan fiskal dalam negeri.

Menurut laporan strategi mingguan dari Commonwealth Bank of Australia, perkembangan perdagangan internasional akan menjadi penggerak utama nilai tukar dolar AS dalam waktu dekat. Mereka menyatakan bahwa berita positif terkait kesepakatan dagang dapat memperkuat USD terhadap mata uang seperti euro (EUR), yen (JPY), dan poundsterling (GBP), namun justru berpotensi melemah terhadap dolar Australia (AUD) yang lebih sensitif terhadap risiko global.

Sengketa Trump dan Powell Bayangi Stabilitas Moneter

Di tengah perkembangan positif hubungan dagang, gejolak internal tetap membayangi. Presiden Trump kembali mengkritik Ketua The Fed Jerome Powell, bahkan menyatakan kesiapannya mengganti Powell sebelum masa jabatannya berakhir pada Mei 2026. Trump diketahui menginginkan suku bunga diturunkan drastis dari kisaran 4.25%-4.50% menjadi hanya 1%.

Pernyataan ini membuat investor mempertanyakan independensi Federal Reserve, sekaligus memperdalam tekanan terhadap nilai tukar dolar AS yang terus melemah. Ketidakpastian arah kebijakan moneter ini menjadi salah satu faktor utama yang membuat investor cenderung menghindari aset berbasis dolar.

sengketa trump dan powell bayangi stabilitas moneter

Kesimpulan

Dengan mencairnya hubungan dagang AS-China, membaiknya sentimen global, dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed, nilai tukar dolar AS diprediksi akan terus mengalami tekanan dalam waktu dekat. Investor disarankan untuk tetap memperhatikan perkembangan geopolitik, data ekonomi penting, dan sinyal dari bank sentral dalam mengambil keputusan investasi.

Dalam konteks ini, nilai tukar dolar AS melemah bukan hanya menjadi indikator pasar valuta asing, tapi juga refleksi dari ketegangan politik internal, ketidakpastian fiskal, dan pergeseran arah perdagangan global. Kombinasi faktor ini akan menjadi penentu utama dinamika mata uang USD dalam beberapa pekan ke depan.

Sebagai catatan penting, nilai tukar dolar AS memiliki dampak signifikan terhadap harga komoditas, arus investasi asing, dan kestabilan pasar modal global. Oleh karena itu, pengamat pasar dan pelaku bisnis disarankan untuk terus mengikuti perkembangan berita ekonomi dan kebijakan moneter AS secara seksama guna mengantisipasi perubahan mendadak yang mungkin terjadi.

Pilihan Rekomendasi Broker

Berikut pilihan rekomendasi broker yang telah kami uji secara langsung dari sisi keamanan dana, kualitas eksekusi, kemudahan deposit dan penarikan, serta banyak hal lainnya. Silahkan klik link berikut.

Indovestory Portal Berita Forex Terkini

Indovestory merupakan portal berita yang memberikan informasi terkini dan edukasi seputar kegiatan perdagangan valas atau Trading Forex.

Hubungi Kami

Berlangganan Informasi Terbaru

Subscribe
Send Message

Get Latest news daily to your mail