1. Kebijakan Bank of Japan yang Ultra-Longgar
Selama lebih dari satu dekade, BoJ menjalankan kebijakan Yield Curve Control untuk menjaga suku bunga jangka panjang tetap rendah. Langkah ini dimaksudkan agar perekonomian Jepang tetap likuid dan mendukung ekspor. Namun di sisi lain, kebijakan ini membuat yen kehilangan daya saing saat yield negara lain naik.
Ketika bank sentral lain memperketat kebijakan moneter, Jepang justru tertinggal. Hasilnya, nilai yen terus tertekan dan menjadi salah satu mata uang dengan performa terburuk di Asia selama 2025.
2. Perbedaan Suku Bunga yang Melebar
Gap suku bunga antara dolar AS dan yen Jepang menjadi faktor utama pelemahan yen. Investor global cenderung menjual yen dan membeli dolar karena imbal hasil lebih tinggi. Fenomena ini dikenal dengan istilah carry trade, yaitu strategi meminjam uang dengan bunga rendah (yen) dan menempatkannya pada aset berimbal hasil tinggi (dolar).
3. Lemahnya Permintaan Domestik dan Risiko Deflasi
Ekonomi Jepang masih menghadapi tekanan dari rendahnya konsumsi domestik dan risiko deflasi jangka panjang. Tanpa dorongan permintaan internal yang kuat, yen tidak memiliki alasan fundamental untuk menguat. Hal ini membuat pergerakan yen lebih mudah terpengaruh oleh faktor eksternal seperti yield obligasi AS.