Permintaan Elektrifikasi dan AI Data Center
Berbeda dengan perak yang banyak diburu investor ETF, kenaikan tembaga lebih didorong kebutuhan industri. Lonjakan elektrifikasi, pusat data kecerdasan buatan, dan proyek energi bersih meningkatkan konsumsi tembaga untuk infrastruktur kabel, baterai, dan komponen mesin.
Defisit Pasokan Jangka Panjang
Analis menilai defisit pasokan akan muncul beberapa tahun mendatang. Gangguan tambang utama mempersempit suplai. Sementara permintaan energi terbarukan seperti PLTS, EV, dan jaringan pintar terus meluas di pasar Amerika, Eropa, dan Asia.
Dampak Kebijakan Tarif Impor AS
Pengumuman tarif impor tembaga oleh Presiden AS Donald Trump pada Februari mendorong lonjakan kontrak berjangka di New York melebihi harga LME. Pedagang besar seperti Mercuria dan Glencore memanfaatkan arbitrase dengan mengakselerasi impor tembaga ke AS.
Ketika AS mengecualikan tembaga komoditas dari tarif, aliran impor sempat melambat. Namun wacana peninjauan tarif kembali memicu percepatan pengiriman. Hal ini menciptakan celah harga dan menahan pasokan global yang semakin ketat.
Spekulasi dan Hedging Kontrak Derivatif
Minat terbuka terbesar terkonsentrasi pada opsi beli di atas harga pasar. Investor menggunakan kontrak opsi untuk lindung nilai atas potensi lonjakan berikutnya. Risiko koreksi jangka pendek 10 hingga 15 persen tetap ada. Tetapi analis PIMCO menyebut prospek jangka panjang masih bullish.
Perbandingan Kinerja Perak, Tembaga dan Emas Sepanjang 2025
Perak mencatat kenaikan tertinggi dengan pergerakan parabola dalam waktu singkat. Tembaga bergerak stabil dengan dukungan fundamental sektor energi. Emas cenderung mendatar setelah mencetak rekor pada Oktober.